SAAT Cina memutuskan untuk bergabung dengan World Trade Organization (WTO) beberapa waktu lalu, banyak pengamat merasa pesimistis akan kemampuan Negeri Tirai Bambu itu. Maklum, Cina yang sebelumnya menutup diri dari lalu lintas perdagangan dunia dinilai tidak memiliki pengalaman cukup menghadapi perdagangan bebas, apalagi saat itu didominasi kebijakan ekonomi sentralistik yang membendung arus masuk modal asing.
Namun, kini Cina telah menjadi pendatang baru yang diperhitungkan di tengah lalu lintas perdagangan dunia. Tahun 2004, Indonesia telah menempatkan Cina sebagai mitra dagang terbesar setelah Jepang. Saat ini neraca perdagangan Indonesia-Cina ditandai mengalirnya barang-barang konsumsi dari Cina, seperti peralatan elektronik, kendaraan bermotor, produk garmen, dan mesin-mesin produksi. Cina juga merupakan negara asal impor nonmigas terbesar bagi Indonesia setelah Jepang, dengan nilai 205,3 juta dollar AS (Kompas, 3 Januari 2004).
Pertumbuhan ekonomi Cina
Pesatnya pertumbuhan ekonomi Cina mendorong mereka melakukan ekspansi pasar besar-besaran. Ekspansi pasar meski terkesan dilakukan dengan hati-hati, cukup meresahkan negara-negara tetangga, Jepang, Korea Selatan, dan negara ASEAN, karena diikuti basis pertumbuhan ekonominya yang kuat. Cina telah tampil sebagai the new miracle of Asia, sejajar dengan negara-negara the big economic of Asia seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Hongkong, yang pernah disebut-sebut sebagai pusat keajaiban ekonomi Asia.
Dibandingkan dengan Jepang yang tengah menjalankan program zero growth, pertumbuhan ekonomi Cina saat ini mencapai delapan persen. Kesuksesan ini merupakan bagian dari strategi market economy yang menjadi orientasi Cina pasca-Jiang Zemin. Reformasi Partai Komunis Cina (PKC) dalam Kongres November 2001, dengan memasukkan kelas kapitalis (shehui qita fangmian de youxiu fenzi) ke dalam unsur PKC, tidak hanya bertujuan merombak total hubungan majikan-pekerja dalam tradisi komunis Cina, tetapi juga memperkuat basis pendukung kapitalis Cina melakukan ekspansi pasar guna mempercepat pertumbuhan ekonominya.
Sejak dua tahun lalu Cina memberi ruang lebar kepada pihak swasta melakukan gebrakan ke pasar global. Pasar-pasar negara ASEAN menjadi incaran pertama pengusaha swasta Cina. Pasar ASEAN dinilai amat potensial. Cina bahkan ingin menjalin perdagangan yang intens dengan negara-negara ASEAN melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA).
Dalam pertemuan ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, 2 September 2003, para politisi Cina coba mendekati negara-negara ASEAN dan menyampaikan keinginannya bergabung dengan AFTA sehingga menjadi ASEAN Plus Three. ASEAN sejak awal tahun 2003 telah menjadikan AFTA sebagai Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN. Potensi pasar ASEAN sendiri termasuk besar karena didukung 530 juta penduduk yang memiliki tingkat daya beli yang cukup tinggi, dan beberapa negara, di antaranya Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina, mulai bangkit dari krisis ekonomi yang mereka alami tahun 1997 (Kompas, 3/9/2003).
Strategi baru perekonomian Cina, seperti kata Presiden Cina Hu Jianto, adalah bagaimana menjadikan Cina sebagai pusat produksi, sedangkan distribusi dan konsumsi diupayakan diserahkan sepenuhnya ke pasar-pasar internasional. Indonesia dan ASEAN merupakan negara-negara yang diprioritaskan Cina menjadi target utama barang-barang produksinya.
Catatan akhir tahun 2003 menunjukkan, Cina telah menjadi negara pengekspor nonmigas terbesar bagi Indonesia setelah Jepang. Nilai impor Indonesia dari Cina pada November 2003 mencapai 205,3 juta dollar AS, sedikit di bawah Jepang dengan nilai 341,4 juta dollar AS, dan melampaui AS yang hanya memperoleh 203,89 juta dollar AS (Kompas, 3/1/2004). Dengan demikian, Cina menjadi mitra dagang kedua Indonesia setelah Jepang.
Rating tertinggi
Penyebab lain ekspansi ekonomi Cina adalah arus masuk modal asing yang kian tinggi. Saat ini Cina merupakan salah satu negara yang menduduki rating tertinggi dalam foreign direct investment (FDI). Sejauh ini, dua raksasa mobil di dunia telah menanamkan investasi di Cina sebesar 6,5 miliar dollar AS (Media Indonesia, 29/6/2003). Tidak heran jika Cina melakukan ekspansi pasar secara besar-besaran.
Di pasar Indonesia dan negara-negara ASEAN lain tidaklah sulit menemukan produk peniti, obeng, palu, dan senter buatan Cina yang harganya relatif murah dibandingkan dengan produk negara ASEAN sendiri. Di bidang otomotif, Cina memiliki jumlah produksi melampaui negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Tahun 2002 Cina memproduksi 2,4 juta unit mobil, sementara negara-negara ASEAN baru memproduksi 1,2 juta unit mobil.
Sepertiga dari mobil buatan Cina laris terjual di negara-negara ASEAN, dan sisanya terserap di pasar internasional dan domestik sendiri. Dengan harga murah, berbagai produk Cina mampu mengalahkan produk negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS).
Strategi antisipasi
Ekspansi pasar perekonomian Cina menjadi tantangan kita. Tantangan terbesar adalah bagaimana menciptakan produk domestik dengan kualitas tinggi dan harga rendah. Jika kita tidak ingin pasar domestik didipenuhi barang impor, strategi yang perlu dilakukan bukan membendung masuknya barang impor (strategi konvensional), melainkan meningkatkan daya saing produk domestik dengan menaikkan kualitas barang dan menurunkan harga.
Strategi ini harus didukung pemerintah, terutama dalam memberantas korupsi. Korupsi telah menyebabkan kualitas barang produksi dalam negeri kita rendah dan harganya tinggi serta sulit bersaing dengan produk negara lain. Beban yang ditanggung produsen dari mengurus izin yang memakan ongkos tinggi sampai biaya distribusi yang melewati banyak broker, menyebabkan tingginya biaya siluman yang ditanggung produsen domestik.
Tentu saja kita juga harus bijak dalam mengambil keputusan berkait dengan dunia usaha. Pengusaha besar yang terus merengek meminta proteksi pemerintah tidak perlu dilayani. Terbukti perekonomian kita telah hancur karena banyaknya proteksi kepada pengusaha yang tidak mandiri dan terlalu banyak menuntut kepada negara. Selain itu, para pengusaha besarlah yang selama ini melakukan pembobolan perekonomian kita melalui bank-bank yang tingkat surveillance-nya amat rendah.
Kita juga harus selektif dalam mengawasi setiap barang yang masuk. Berbagai produk ilegal yang masuk secara gelap ke pasar Indonesia harus diberi sanksi hukuman yang jelas dan membuat kapok pelakunya. Rule of law harus diterapkan dengan baik untuk menghindari kesan negara kita diperintah aktor-aktor politik yang mudah disuap.