FENOMENA BARACK OBAMA

Juni 22, 2008

 online riset (tugas III)

Oleh: Sirajuddin

0805136139

 

MAHASISWA PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA

  

A. LATAR BELAKANG KANDIDAT KUAT CALON PRESIDEN AMERIKA

 

1. PERSONAL DATA

·        Birth – August 4, 1961 in Honolulu, Hawaii

·        Education – B.A. in international relations, 1983, Columbia University. J.D. from Harvard Law School, where he was Editor of the Harvard Law Review

·        Family – Married on October 18, 1992 to Michelle Robinson, a Chicago native, also a Harvard Law School graduate. Two young daughters, Malia and Sasha.

·        Faith – Christian, United Church of Christ

 

2. MASA PERTUMBUHAN

Born Barrack Hussein Obama, Jr, son of a Kenya-born Harvard-educated economist and Ann Dunham, a caucasian anthropologist, was 2 years old when his father left them. His father (deceased in 1982) returned to Kenya, and only saw his son once more. His mother remarried, and moved Barack to Indonesia. He returned to Hawaii at age 10 to live with his maternal grandparents. He graduated from the respected Punahou School with honors. As a teenager, he scooped ice cream at Baskins-Robbins, and has admitted to dabbling in marijuana and cocaine. His mother died of cancer in 1995.

 

3. MASA KECIL DI INDONESIA

            Seorang bocah kecil bercelana pendek bermain-main di rumahnya di kawasan Menteng dalam, Jakarta Pusat. Setelah waktu berlalu sekian lama, anak itu mengejutkan publik Indonesia. Dia menjadi senator dan bakal jadi calon Presiden AS. Barack Obama nama anak itu. Dia sempat mengeyam pendidikan di SD Franciscus Asisi di kawasan Menteng Dalam. Dia masuk sekolah pada 1 Januari 1968 dan duduk di kelas 1B. Hanya saja, namanya tercatat sebagai Barry Soetoro. Ayah kandungnya, Barack Husein Obama Sr adalah seorang muslim ahli ekonomi asal Kenya. Sedangkan ibunya, Ann Dunham asal Kansas, AS. Ann merupakan doktor ekonomi pertanian dari University of Hawaii di Manoa, disertasinya tentang pandai besi di Indonesia. Dia pernah menjadi konsultan di BRI. Namun Barack tercatat sebagai WNI yang lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Itu karena setelah bercerai dengan Husein Obama, Ann menikah dengan orang Indonesia, L. Soetoro.

            Barack tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya itu di Jalan H. Ramli, di belakang SD Asisi. Di rumah itu tinggal pula adik tirinya, Maya Soetoro. Layaknya bocah, dengan hanya mengenakan celana pendek Barack sering bermain gundu dan sepakbola. Dia juga sering bermain ke mushala dengan memakai sarung.

            Dia memang pandai bergaul meski bahasa Indonesianya kurang bagus. Maklum dia berbahasa Inggris bila di rumah, ungkap Emirsyah Satar, direktur utama Garuda Indonesia, yang pernah menjadi teman main Barack. Namun setelah pindah ke AS dan tinggal bersama neneknya, Emir mengaku tak pernah kontak dengan Barack. Meski demikian, dia mengaku berharap dan berdoa agar senator AS asal Illionis itu bisa memenangkan pertarungan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat.
 

 

4. ISSU TENTANG ISLAM

 

 

Salah satu keunggulan sekaligus bumerang bagi Barack Obama adalah isu ‘Islam’ yang konon disemburkan oleh para staf kampanye Clinton. Inilah yang membuat Obama terlihat kelabakan adalah nama tengahnya. Pukulan makin terasa keras manakala fotonya yang mengenakan sorban saat berkunjung ke negeri Arab di Afrika, Somalia beredar. Foto tersebut pertama kali dimuat oleh situs The Drudge, yang mengaku mendapatnya dari juru kampanye Hillary Clinton melalui sebuah email.

Obama segera menyangkal dia memiliki kaitan dengan Islam. “Saya bukan seorang Muslim dan saya belum pernah menjadi Muslim. Saya tidak pernah sekolah di madrasah. Saya tidak diangkat sumpah dengan Alquran. Saya adalah seorang Kristiani,” ujar Obama. Istrinya, Michelle,  ikut-ikutan angkat suara. Ia menyatakan bahwa orang Republik mengipas-ngipaskan rumor yang keliru tentang hubungan personal suaminya dengan Islam. Rupanya isu ‘Islam’ lebih menakutkan dari isu gender dan ras dalam pemilihan presiden di negara yang mengaku sangat demokratis dan tidak membedakan orang berdasarkan kepercayaan itu.

 

5. KARIR BERPOLITIK

Senator Barack Obama mengukuhkan dirinya sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat. Pernyataan Obama itu disampaikan dalam pidatonya di hadapan 19 ribu pendukungnya di stadion di St Paul, Minnesota, Amerika Serikat (AS), Selasa (3/6) malam. ”Malam ini, saya dapat katakan bahwa saya akan menjadi kandidat presiden AS dari Partai Demokrat. Malam ini kita menandai akhir perjalanan bersejarah dan memulai perjalanan lainnya, sebuah perjalanan yang akan membawa hari baru dan lebih baik bagi AS,” kata Obama.

Obama yakin akan menjadi kandidat menuju kursi Gedung Putih setelah berhasil mengamankan 2.118 delegasi–jumlah yang dibutuhkan untuk menjadi wakil partai. Primari terakhir Demokrat di Montana dan South Dakota, Selasa (3/6), seperti dilaporkan wartawan Republika, Indah Wulanningsih, Obama unggul sementara di Montana. Dengan hasil di Montana, Obama mengumpulkan 2.154 delegasi. Sementara, pesaing Obama, Hillary Rodham Clinton, mengumpulkan 1.919,5 delegasi. Dengan demikian, Obama bakal menjadi kandidat presiden Afro-Amerika pertama yang memiliki kesempatan berebut kursi menuju Gedung Putih. Ia akan berhadapan dengan kandidat presiden dari Partai Republik, John McCain. ”Amerika sekarang adalah momentum kita. Masa untuk membuka lembaran politik baru. Inilah masa untuk membawa energi dan ide baru mengatasi tantangan yang kita hadapi,” tegas Obama.

 

6. LAWAN POLITIK

SETELAH berkali-kali diserang Hillary Clinton, rasa sabar Barack Obama hilang juga. Hillary Clinton, misalnya, mengatakan Obama tidak punya pengalaman yang memadai untuk menangani berbagai kebijakan pemerintah, terutama kebijakan luar negeri. Itu sebabnya, sebut Hillary, bila menang dalam pemilihan presiden Obama tidak akan efektif sejak hari pertama atau D One.

Menyikapi pernyataan Hillary Clinton itu, Obama mengatakan, Hillary tampaknya sedikit tertekan dan stres menghadapi pertarungan diantara kedua orang itu untuk merebut tiket calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. “Saya kira dia (Hillary) sedikit stres menjelang akhir dari kampanye ini,” kata Obama kepada ABC dalam sebuah wawancara Minggu malam (2/3). “Dia sekarang lebih agresif dalam menyampaikan serangan negatif,” kata Obama lagi.

Komentar Obama itu disampaikannya sehari setelah Hillary Clinton merilis iklan politik di televsi Texas yang menyerang dan menyudutkan Obama. Iklan itu menampilkan seorang anak yang sedang tertidur, sementara sebuah telepon berdering tak jauh darinya. Dering telepon tak dapat membangunkan anak itu. Narator iklan politik itu berkata, “Ini jam 3 pagi, dan anak Anda sedang tertidur dengan aman. Siapa yang Anda harapkan akan mengangkat telepon?” Kubu Obama mengecam iklan politik yang secara terang-terangan mengaitkan Obama sebagai anak kecil yang kurang pengalaman, sehingga tidak akan tanggap terhadap berbagai keadaan darurat. Hillary dan Obama akan bertarung dalam primary election di Texas dan Ohio, hari Selasa waktu Amerika (4/3). Ini adalah pertarungan hidup-mati antara keduanya. Walau Obama kini berada di posisi terdepan, namun perolehan jumlah delegasi yang dimilikinya tida berbeda signifikan dengan jumlah delegasi yang dimiliki Hillary. Seperti Obama, Hillary juga masih punya peluang untuk keluar sebagai pemenang.

 

7. KEBIJAKAN POLITIK

Politik jalan tengah, Dari segi substansi dan spektrum ide-ide yang ditawarkannya, Barack Obama bisa digolongkan sebagai politisi moderat dari tradisi liberal Amerika. Atau secara lebih sederhana ia bisa disebut sebagai the third way politician, politisi jalan tengah dalam tradisi yang telah dirintis Bill Clinton dan Tony Blair. Hal inilah yang membedakan Obama dengan banyak politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrem, baik di kiri (Jesse Jackson) maupun di kanan (Alan Keyes). Dalam membangun ekonomi Amerika, ia mengakui pentingnya peran mekanisme pasar, namun ia tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam kehidupan keagamaan, ia bisa bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia mengerti betul bahwa tradisi sekularisme Amerika adalah tradisi sakral yang harus terus-menerus diperkuat. Dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin membangun a vital center, sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandangan-pandangan yang bertentangan.

Intuisi Obama adalah mencari moderasi dan jalan tengah. Ia ingin merangkul sebanyak mungkin kalangan. Untuk itu, ia bahkan sanggup mencari kebenaran pada lawan-lawan politiknya dan mengakui bahwa kaum Republikan sering kali memiliki pandangan yang lebih baik. Kaum pengkritik Obama barangkali dapat menemukan titik lemah dalam pandangan dan intuisi seperti itu. Sebagian orang bisa berkata bahwa intuisi demikian sudah menjadi sebuah obsesi. Sementara sebagian lagi dapat menuduh bahwa jalan tengah bukanlah sebuah jalan keluar, melainkan sebuah pelarian, sebuah jalan pintas untuk menghindari pilihan-pilihan sulit yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.

Kritik demikian cukup mengandung kebenaran. Namun, satu hal yang jelas: Obama bukanlah seseorang yang tidak mampu menghadapi pilihan-pilihan sulit dan selalu menghindari risiko. Ia adalah salah satu dari sedikit politisi yang secara tegas menentang tindakan Bush di Irak yang waktu itu sangat populer. Sekarang, setelah Perang Irak dianggap gagal, hampir semua orang mengecam Bush—tetapi pada saat awal, Obama mengambil risiko besar dengan memilih untuk melawan arus. Adapun mengenai jalan tengah sebagai proposisi kebijakan, barangkali memang saat ini Amerika lebih membutuhkannya.

 

8. KEBIJAKAN LUAR NEGERI

            Dukungan Terhadap Pengembangan Nuklir Iran, Si pemilik bulu mata lentik ini hanya menegaskan Iran seharusnya tahu Obama akan memberi tanggapan berbeda daripada Hillary. Ia akan memberi respon damai dalam setiap serangan terhadap apapun sekutu AS.

            Mencari Dukungan Ke Israel, “Nilailah saya atas apa yang saya katakan dan lakukan. Jangan menilai karena saya punya nama yang aneh. Jangan menilai saya karena  saya keturunan Afrika Amerika dan memang banyak orang yang mempersoalkan masa lalu,” katanya.“Saya ingin meyakinkan bahwa saya lah orang yang menjadi kendaraan bagi kita untuk menbangung kembali ikatan itu,” katanya melanjutkan. “Kalau saya ada di Gedung Putih, saya akan membawa serta komitmen yang teguh untuk menjaga hubungan Amerika Serikat dengan Israel dan komitmen yang teguh juga terhadap keamanan Israel,” katanya. Obama mengaku prihatin dengan ketidakharmonisan hubungan antara kulit hitam dan Yahudi, dua kelompok yang sama-sama tercabut dari akar budaya dan terusir dari tanah airnya. Pernyataan itu dimaksudkan untuk menyakinkan kelompok Yahudi yang selama ini meragukan. Selain itu Obama juga berharap bisa meningkatkan hubungan antara Yahudi dan kulit hitam.

 

Reference:

http://usliberals.about.com/od/congressionalleadership/p/SenObama.htm

http://www.freedom-institute.org/id/index.php?page=profil&detail=artikel&detail=dir&id=265

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=336459&kat_id=3

http://teguhtimur.com/2008/03/04/obama-hillary-mulai-stres/

http://muhsinlabib.wordpress.com/2008/03/05/obama-versus-hillary-antara-isu-gender-ras-dan-agama/

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6739&Itemid=66

http://fatah75.wordpress.com/2008/05/25/obama-cari-dukungan-yahudi/

http://cetak.fajar.co.id/news.php?newsid=68111

http://budihlm.blogspot.com/2007/02/we-love-barack-obama.html

 

DAMPAK KENAIKAN BBM

Juni 17, 2008

 

Oleh SIRAJUDDIN SPdI
Kenaikan BBM pada saat bersamaan semakin menambah beban masyarakat yang sampai saat ini masih juga menanggung beban krisis ekonomi. Kenaikkan BBM akan mengakibatkan efek domino di masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial-politik. Secara ekonomi, kenaikan tersebut akan mengakibatkan kenaikan harga-harga dan barang jasa (inflasi), bahkan kenaikan tersebut bisa tak terkendali menyusul kenaikan BBM itu. Seperti diungkapkan Deputi Bidang Statistik Ekonomi BPS (Badan Pusat Statistik), kenaikan BBM yang cukup signifikan ini dikhawatirkan akan memicu inflasi besar-besaran selama triwulan pertama tahun 2005. Kenaikan laju inflasi itu akan tercermin dari naiknya harga sejumlah komponen kebutuhan pokok masyarakat, berupa barang dan jasa.
Secara sosial-politik kebijakan menaikkan harga ketiga komponen tersebut juga akan menimbulkan kerawanan sosial di masyarakat. Di tengah kehidupan sosial-ekonomi yang semakin terhimpit krisis, kebutuhan hidup semakin melambung se-mentara, daya beli masyarakat semakin rendah, bukan tidak mungkin masyarakat akan menunjukkan penolakan secara lebih luas dan intensif. Unjuk rasa terus-menerus akan sangat potensial menimbulkan ketidakstabilan sosial-ekonomi dan keamanan.

Alternatif

 

 

Padahal persoalannya tak sesederhana bayangan orang awam, bahwa kebijakan kenaikan BBM bertujuan menyusahkan rakyat luas. Persoalannya sekarang, bagaimana pemerintah melakukan langkah-langkah untuk mengimbangi kenaikan harga BBM akibat pencabutan subsidi tersebut. Kita berpendapat, bila harga BBM naik, maka pelayanan kepada masyarakat harus ditingkatkan. Atau lebih dari itu, pemerintahan dituntut untuk menaikkan tingkat pendapatan masyarakat. Misalnya, dengan membuka lapangan kerja baru atau menaikkan upah atau gaji. Dalam mengelola ekonomi, pemerintah terkesan tidak mempunyai management yang baik, dan lemah koordinasinya. Kenaikan harga-harga beruntun tersebut menyebabkan seluruh unit ekonomi harus merespons pukulan tersebut dan melakukan anggaran-anggaran pengeluarannya.
Kebijakan pemerintah tersebut merupakan dilema dan keputusan yang berat dan berisiko bagi pemerintah. Di satu sisi, bahwa kebijakan menaikkan BBM atau pencabutan subsidi BBM harus dilakukan dan sulit dihindarkan dalam rangka penyesuaian atau revisi anggaran APBN 2005, tapi di sisi lain masyarakat saat ini masih ditimpa kesusahan hidup akibat krisis ekonomi yang belum juga membaik. Sehingga, masyarakat menilai momentum kenaikan harga BBM tersebut kurang tepat. Bagi pemerintah pun, mengulur atau menunda waktu kenaikan harga BBM berarti menambah beban pemerintah yang semakin besar.
Dalam melakukan reorientasi kenaikan BBM itu pemerintah perlu mengambil teknik penentuan harga yang berlapis. Untuk mengurangi beban masyarakat lapisan bawah, pemerintah diharapkan konsekuen untuk hanya sedikit menaikkan harga jenis BBM yang banyak dikonsumsi masyarakat bawah. Kalau rencana kenaikan harga BBM secara umum adalah 20%, maka minyak tanah dan minyak bakar yang banyak dikonsumsi masyarakat bawah hendaknya jangan sampai naik lebih dari 10%, akan lebih baik tidak dinaikkan sama sekali. Alasannya angka 10% sudah merupakan angka kenaikan yang cukup tinggi bagi masyarakat tak mampu. Untuk premium dan solar, kenaikan sedikit di atas 10% masih wajar karena kelas konsumennya memang lebih tinggi. Sedangkan harga minyak aftur dan avgas yang dikonsumsi oleh kalangan atas, kenaikan harganya dapat jauh lebih tinggi untuk menutup rendahnya kenaikan jenis minyak yang dikonsumsi kalangan bawah.
Setelah jalan itu ditempuh negara perlu menggalakkan pengencangan ikat pinggang dan melakukan revisi besar-besaran dari skala prioritas konsumsi mereka. Bagi kalangan dunia usaha, mereka lebih dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian akibat implikasi dari kenaikan BBM yang diikuti harga lain). Karena dari kenaikan harga tersebut, dapat mereka kompensasikan pada produk yang dihasilkan.


Untuk mengurangi beban golongan masyarakat kurang mampu akibat kenaikan BBM, pemerintah memberikan kompensasi yang diarahkan terutama pada program-program pertanian, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan operasi pasar khusus (OPK) beras untuk rakyat miskin. Besarnya kompensasi tersebut perlu dilakukan secara sistematis dengan anggaran memadai dan tepat sasaran.


Karena bertitik tolak dari sejarah masa lalu, pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan selalu diikuti penyimpangan dalam realisasinya. Kebijakan ”pengganti” ini pun seringkali mendapat sorotan dari masyarakat. sampai saat ini masyarakat tidak tahu jelas masalah desain, skenario, sistematika dan realisasi program kompensasi sosial tersebut. Bahkan evaluasi mengenai skenario penyaluran dana tersebut belum pernah dilakukan, apalagi pertanggungjawabannya. Suara-suara kritis untuk melakukan evaluasi dan memberikan pertanggungjawaban sudah didengungkan oleh kelompok masyarakat, namun tampaknya kurang menjadi perhatian utama dari pemerintah. Kondisi ini yang semestinya harus dilakukan pemerintah sebagai ”kompensasi utama” terhadap kebijakan menaikkan BBM
Dengan latar pemaparan di atas, sebelum pemerintah menaikkan harga BBM ada beberapa hal yang harus dipikirkan secara mendalam. Pertama, mengkaji ulang tentang dasar dan tujuan mengapa pemerintah mau menaikkan harga BBM. Selanjutnya, perlu juga dikaji berapa besar angka kenaikkan harga BBM yang lebih pas sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini. Kedua, melakukan kajian mendalam terhadap penyaluran hasil pengurangan subsidi BBM. Dan itu harus jelas diketahui oleh masyarakat. Ketiga, menjaga agar dampak yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM tidak sampai meluas jauh. Keempat, menjamin tersedianya kebutuhan BBM di masyarakat, termasuk dengan menindak segala pelaku penyelundupan BBM. Bila keempat hal itu dilakukan, tampaknya dampak kebijakan terkait BBM bisa ditekan di tingkat titik terendah.

 

IKAN TAWAR, KAYA VITAMIN AND PROTEIN

Juni 17, 2008

PENDAHULUAN

Kandungan gizi ikan air tawar cukup tinggi dan hampir sama dengan ikan air laut, sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah cukup. Tingginya kandungan protein dan vitamin membuat ikan yang mudah dibudi dayakan ini sangat membantu pertumbuhan anak-anak balita. Dibandingkan dengan negara-negara lain, konsumsi ikan per kapita per tahun di Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yaitu 19,14 kg. Hal ini sangat disayangkan, terutama mengingat betapa besar peranan gizi ikan bagi kesehatan. Untuk mengatasi masalah rendahnya konsumsi ikan laut akibat harganya yang relatif mahal, perlu upaya pengembangan ikan air tawar.

Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna. Mengingat besarnya peranan gizi bagi kesehatan, ikan merupakan pilihan tepat untuk diet di masa yang akan datang. Ikan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu ikan air laut, air tawar, dan air payau atau tambak. Ikan yang hidup di air tawar dan air laut sangat banyak, sehingga dibedakan menjadi golongan yang dapat dikonsumsi dan ikan hias.
Lingkungan hidup ikan air tawar adalah sungai, danau, kolam, sawah, atau rawa. Jenis ikan air tawar yang umum dikonsumsi adalah sidat, belut, gurame, lele, mas, nila merah, tawes, karper, nilem, tambakan, sepat siam, mujair, gabus, toman, betok, jambal, dan jelawat.

 

Budi Daya Air Tawar


Keberhasilan usaha perikanan air tawar ditentukan oleh faktor lingkungan. Tanah liat atau lempung sangat baik untuk pembuatan kolam. Demikian pula untuk tanah beranjangan atau terapan dengan kandungan liatnya 30 persen. Kedua jenis tanah tersebut dapat menahan
massa air yang besar dan tidak bocor. Faktor lingkungan dapat berpengaruh terhadap cita rasa ikan, misalnya bau tanah atau lumpur.

Hal lain yang sangat penting diperhatikan dalam budi daya ikan air tawar adalah mutu air. Sumber air bisa berasal dari air sungai, hujan, atau tanah. Mutu air yang diperlukan untuk budi daya ikan air tawar haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut: oksigen terlarut sekitar 5-6 ppm, karbondioksida terlarut kurang dari 25 ppm, pH antara 6,7-8,6, suhu 25-30oC dengan perbedaan suhu antara siang dan malam tidak lebih dari 5oC, serta tidak tercemar bahan kimia beracun, minyak, atau limbah pabrik.

Air yang terlalu keruh tidak baik untuk kehidupan ikan karena endapan lumpurnya terlalu tebal dan pekat, sehingga dapat mengganggu penglihatan ikan dalam air dan menyebabkan nafsu makannya berkurang. Semakin banyak dan beragam biota air yang terdapat di dalam perairan, semakin tinggi tingkat kesuburannya.

Budi daya ikan air tawar lebih mudah dibandingkan dengan ikan air laut. Sebagai contoh budi daya ikan mas sangat mudah sekali dilakukan karena toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi. Meski demikian, dalam kenyataannya perkembangan ketersediaan dan konsumsi ikan air laut lebih besar daripada ikan air tawar.

Kendala utama budi daya ikan air tawar adalah diperlukan waktu dan biaya yang cukup tinggi. Komponen biaya meliputi: persiapan kolam, pemilihan induk, pemijahan, penetasan, dan pendederan. Biaya lain yang dianggap cukup tinggi adalah untuk pakan dan pemeliharaan terhadap hama dan penyakit ikan.

Penyimpanan Segar


Ikan air tawar umumnya diperdagangkan dalam keadaan masih hidup. Hal ini sangat menguntungkan karena mutunya masih sangat terjaga baik. Dengan alasan kepraktisan, banyak orang membeli ikan air tawar dalam jumlah banyak dan menyimpannya di rumah untuk berbagai keperluan.

Namun, ikan merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami kerusakan. Berbagai jenis bakteri dapat menguraikan komponen gizi ikan menjadi senyawa-senyawa berbau busuk dan anyir, seperti indol, skatol, H2S, merkaptan, dan lain-lain. Beberapa bakteri patogen (penyebab penyakit), seperti Salmonella, Vibrio, dan Clostridium, sering mencemari produk perikanan.

Beberapa faktor penyebab kerusakan ikan air tawar adalah:

1. Kadar air cukup tinggi (70-80 persen dari berat daging) yang menyebabkan mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang biak.

2. Secara alami, ikan mengandung enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin, isobutilamin, kadaverin, dan lain-lain, yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap.

3. Lemak ikan mengandung asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis yang menghasilkan bau tengik.

4. Ikan mempunyai susunan jaringan sel yang lebih longgar, sehingga mikroba dapat dengan mudah mengggunakannya sebagai media pertumbuhan.

Sifat ikan yang sangat mudah rusak ini akan diperberat lagi oleh kondisi penanganan pascapanen yang kurang baik. Kerusakan mekanis dapat terjadi akibat benturan selama penangkapan, pengangkutan, dan persiapan sebelum pengolahan.

Gejala yang timbul akibat kerusakan mekanis ini antara lain memar (karena tertindih atau tertekan), sobek, atau terpotong. Kerusakan mekanis pada ikan ini tidak berpengaruh nyata terhadap nilai gizinya, tetapi cukup berpengaruh terhadap penampilan dan penerimaan konsumen.

Pada dasarnya penanganan dan pengolahan ikan bertujuan untuk mencegah kerusakan atau pembusukan. Upaya untuk memperpanjang daya tahan simpan ikan segar adalah melalui penyimpanan dalam lemari pendingin atau pembeku, yang mampu menghambat aktivitas mikroba atau enzim. Setiap penurunan suhu 8oC menyebabkan kecepatan reaksi metabolisme berkurang menjadi kira-kira setengahnya.

Oleh karena itu, makin rendah suhu penyimpanan ikan, makin panjang daya simpannya. Penyimpanan dingin dalam lemari es (refrigerator) hanya mampu memperpanjang umur simpan ikan hingga beberapa hari, sedangkan dalam lemari pembeku (freezer) akan membuat awet hingga berbulan-bulan, tergantung suhu yang digunakan.

Penyimpanan pada suhu rendah (pendinginan dan pembekuan) tidak dapat membunuh semua mikroorganisme, tetapi menghambat pertumbuhannya. Oleh karena itu, ikan yang akan disimpan pada suhu rendah harus dibersihkan terlebih dahulu untuk mengurangi jumlah mikroorganisme awal yang ada pada bahan tersebut.

Proses pembersihan tersebut dikenal dengan istilah penyiangan, yaitu pembuangan bagian kulit, insang, dan bagian dalam ikan (jeroan). Bagian-bagian tersebut perlu dibuang karena merupakan sumber utama mikroba pembusuk pada penyimpanan ikan. @ @ Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS. Dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, IPB

 

expansi ekonomi cina

Juni 17, 2008

SAAT Cina memutuskan untuk bergabung dengan World Trade Organization (WTO) beberapa waktu lalu, banyak pengamat merasa pesimistis akan kemampuan Negeri Tirai Bambu itu. Maklum, Cina yang sebelumnya menutup diri dari lalu lintas perdagangan dunia dinilai tidak memiliki pengalaman cukup menghadapi perdagangan bebas, apalagi saat itu didominasi kebijakan ekonomi sentralistik yang membendung arus masuk modal asing.

Namun, kini Cina telah menjadi pendatang baru yang diperhitungkan di tengah lalu lintas perdagangan dunia. Tahun 2004, Indonesia telah menempatkan Cina sebagai mitra dagang terbesar setelah Jepang. Saat ini neraca perdagangan Indonesia-Cina ditandai mengalirnya barang-barang konsumsi dari Cina, seperti peralatan elektronik, kendaraan bermotor, produk garmen, dan mesin-mesin produksi. Cina juga merupakan negara asal impor nonmigas terbesar bagi Indonesia setelah Jepang, dengan nilai 205,3 juta dollar AS (Kompas, 3 Januari 2004).

Pertumbuhan ekonomi Cina

Pesatnya pertumbuhan ekonomi Cina mendorong mereka melakukan ekspansi pasar besar-besaran. Ekspansi pasar meski terkesan dilakukan dengan hati-hati, cukup meresahkan negara-negara tetangga, Jepang, Korea Selatan, dan negara ASEAN, karena diikuti basis pertumbuhan ekonominya yang kuat. Cina telah tampil sebagai the new miracle of Asia, sejajar dengan negara-negara the big economic of Asia seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Hongkong, yang pernah disebut-sebut sebagai pusat keajaiban ekonomi Asia.

Dibandingkan dengan Jepang yang tengah menjalankan program zero growth, pertumbuhan ekonomi Cina saat ini mencapai delapan persen. Kesuksesan ini merupakan bagian dari strategi market economy yang menjadi orientasi Cina pasca-Jiang Zemin. Reformasi Partai Komunis Cina (PKC) dalam Kongres November 2001, dengan memasukkan kelas kapitalis (shehui qita fangmian de youxiu fenzi) ke dalam unsur PKC, tidak hanya bertujuan merombak total hubungan majikan-pekerja dalam tradisi komunis Cina, tetapi juga memperkuat basis pendukung kapitalis Cina melakukan ekspansi pasar guna mempercepat pertumbuhan ekonominya.

Sejak dua tahun lalu Cina memberi ruang lebar kepada pihak swasta melakukan gebrakan ke pasar global. Pasar-pasar negara ASEAN menjadi incaran pertama pengusaha swasta Cina. Pasar ASEAN dinilai amat potensial. Cina bahkan ingin menjalin perdagangan yang intens dengan negara-negara ASEAN melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Dalam pertemuan ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, 2 September 2003, para politisi Cina coba mendekati negara-negara ASEAN dan menyampaikan keinginannya bergabung dengan AFTA sehingga menjadi ASEAN Plus Three. ASEAN sejak awal tahun 2003 telah menjadikan AFTA sebagai Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN. Potensi pasar ASEAN sendiri termasuk besar karena didukung 530 juta penduduk yang memiliki tingkat daya beli yang cukup tinggi, dan beberapa negara, di antaranya Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina, mulai bangkit dari krisis ekonomi yang mereka alami tahun 1997 (Kompas, 3/9/2003).

Strategi baru perekonomian Cina, seperti kata Presiden Cina Hu Jianto, adalah bagaimana menjadikan Cina sebagai pusat produksi, sedangkan distribusi dan konsumsi diupayakan diserahkan sepenuhnya ke pasar-pasar internasional. Indonesia dan ASEAN merupakan negara-negara yang diprioritaskan Cina menjadi target utama barang-barang produksinya.

Catatan akhir tahun 2003 menunjukkan, Cina telah menjadi negara pengekspor nonmigas terbesar bagi Indonesia setelah Jepang. Nilai impor Indonesia dari Cina pada November 2003 mencapai 205,3 juta dollar AS, sedikit di bawah Jepang dengan nilai 341,4 juta dollar AS, dan melampaui AS yang hanya memperoleh 203,89 juta dollar AS (Kompas, 3/1/2004). Dengan demikian, Cina menjadi mitra dagang kedua Indonesia setelah Jepang.

Rating tertinggi

Penyebab lain ekspansi ekonomi Cina adalah arus masuk modal asing yang kian tinggi. Saat ini Cina merupakan salah satu negara yang menduduki rating tertinggi dalam foreign direct investment (FDI). Sejauh ini, dua raksasa mobil di dunia telah menanamkan investasi di Cina sebesar 6,5 miliar dollar AS (Media Indonesia, 29/6/2003). Tidak heran jika Cina melakukan ekspansi pasar secara besar-besaran.

Di pasar Indonesia dan negara-negara ASEAN lain tidaklah sulit menemukan produk peniti, obeng, palu, dan senter buatan Cina yang harganya relatif murah dibandingkan dengan produk negara ASEAN sendiri. Di bidang otomotif, Cina memiliki jumlah produksi melampaui negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Tahun 2002 Cina memproduksi 2,4 juta unit mobil, sementara negara-negara ASEAN baru memproduksi 1,2 juta unit mobil.

Sepertiga dari mobil buatan Cina laris terjual di negara-negara ASEAN, dan sisanya terserap di pasar internasional dan domestik sendiri. Dengan harga murah, berbagai produk Cina mampu mengalahkan produk negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS).

Strategi antisipasi

Ekspansi pasar perekonomian Cina menjadi tantangan kita. Tantangan terbesar adalah bagaimana menciptakan produk domestik dengan kualitas tinggi dan harga rendah. Jika kita tidak ingin pasar domestik didipenuhi barang impor, strategi yang perlu dilakukan bukan membendung masuknya barang impor (strategi konvensional), melainkan meningkatkan daya saing produk domestik dengan menaikkan kualitas barang dan menurunkan harga.

Strategi ini harus didukung pemerintah, terutama dalam memberantas korupsi. Korupsi telah menyebabkan kualitas barang produksi dalam negeri kita rendah dan harganya tinggi serta sulit bersaing dengan produk negara lain. Beban yang ditanggung produsen dari mengurus izin yang memakan ongkos tinggi sampai biaya distribusi yang melewati banyak broker, menyebabkan tingginya biaya siluman yang ditanggung produsen domestik.

Tentu saja kita juga harus bijak dalam mengambil keputusan berkait dengan dunia usaha. Pengusaha besar yang terus merengek meminta proteksi pemerintah tidak perlu dilayani. Terbukti perekonomian kita telah hancur karena banyaknya proteksi kepada pengusaha yang tidak mandiri dan terlalu banyak menuntut kepada negara. Selain itu, para pengusaha besarlah yang selama ini melakukan pembobolan perekonomian kita melalui bank-bank yang tingkat surveillance-nya amat rendah.

Kita juga harus selektif dalam mengawasi setiap barang yang masuk. Berbagai produk ilegal yang masuk secara gelap ke pasar Indonesia harus diberi sanksi hukuman yang jelas dan membuat kapok pelakunya. Rule of law harus diterapkan dengan baik untuk menghindari kesan negara kita diperintah aktor-aktor politik yang mudah disuap.

belajar dan mengingat

Juni 17, 2008

A.     Pendahuluan

Learning adalah proses yang mana kita memperoleh pengetahuan, sedangkan memory adalah hasil yang kita dapat pengetahuan sepanjang waktu. Jadi dalam learning melibatkan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan seseorang dalam memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh tersebut akan disimpan diotak yang berupa memori. Jadi memori itu adalah ”outcome” daripada Learning. Tidak mungkin kita menganggap itu suatu ” learning” tanpa memory. Demikian sebaliknya memory tidak ada tanpa learning.

Mengingat adalah proses pembelajaran yang berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan apa yang didengar dan dilihat dengan baik(PPK Malaysia,2001). Mengingat juga merupakan suatu kemahiran untuk mengingat kembali dengan menyebut atau menulis fakta dan kejadian yang berlaku selepas beberapa lama( PPK Malaysia,2001).

Otak manusia dianggap mempunyai struktur paling kompleks di dunia ini(Woolley,2001). Otak manusia mempunyai berat kira-kira 3 pounds, terdiri dari 97% pusat sistem syaraf, 2 % dari berat tubuh, dan menggunakan 20 persen energy yang dimiliki oleh tubuh. Diperkirakan bahwa otak adalah sekumpulan dari 30 sampai 100 miliar neuron dengan satu bilion penghubung(Greenngard,2001).

Hermann Ebbinghans mengadakan eksperimen pertama tentang manusia untuk mempelajari ” Learning and Memory” 1885, beberapa tahun kemudian Ivan Pavlov dan Edgar Thorndike melakukan eksperimen pada binatang. Metode eksperiemen ini yang mana studi tentang ”learning and Memory” mengarahkan kepada perkembangan psikologi di sekolah yang disebut ”behaviorism”.Para ahli behaviorism memfokuskan pada menguji atau mengamati hubungan antara stimulus dengan respons pada binatang, tetapi menghindari proses mental. Pada tahun 1960-an, muncul aliran baru daripada ilmu pengetahuan yaitu ”cognitive psikology”. Tidak seperti behaviorism, disiplin ilmu ini berhubungan dengan sensor penerima yang secara bertahap digunakan pada memori dan tindakan.

Dalam paper ini, akan dibahas mengenai teori tentang learning and memory, serta bagaimana learning and memory bermanfaat bagi perkembangan pembelajaran di sekolah.

 

 

 

B. Teori belajar

 

1. teori behaviorisme

Behaviorisme (1910 – 1950) : Menurut paham Tingkah Laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Para penganut paham ini yakin bahwa hasil belajar akan terlihat dari perubahan tingkah laku yang dapat diamati, atau diukur, dan perubahan ini terjadi sebagian besar karena lingkungan. Asumsi dasar dari perspektif Perilaku adalah bahwa semua mahluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respon (Watson dalam Pannen, 2000).

Beberapa konsep yang mewakili paham Behaviorisme:

1.a. Classical Conditioning (Ivan Pavlov: 1849 -1936)

  1. Sepotong daging diberikan kepada seekor anjing (UCS), anjing seketika meneteskan air liur (UCR)
  2. Bel dibunyikan (CS), tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkan oleh anjing percobaan
  3. Sepotong daging (UCS) diikuti bunyi bel (CS) : anjing meneteskan air liur (UCR) Langkah 2 diatas dilakukan berulang-ulang, sampai suatu saat ketika :
  4. Bel berbunyi (CS) : anjing meneteskan air liur (CR).

Situasi yang kurang lebih sama bisa terjadi di sekolah, ketika siswa, melalui proses yang tidak mereka sadari, belajar menyukai atau membenci pelajaran tertentu karena adanya CR (Conditioned Response) yang bisa berasal dari perilaku guru, situasi kelas yang tidak bersahabat (atau sebaliknya) atau hal-hal lain yang menyebabkan siswa menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain (associative learning) yang pada akhirnya membuat mereka memiliki sikap tertentu terhadap aktifitas belajar.

John B. Watson lebih dikenal sebagai pendiri Gerakan Behaviorisme dalam bidang Psikologi di AS. Bukan saja Watson yang menciptakan istilah Behaviorisme, tetapi ia juga mengembangkan konsep dasarnya. Watson sangat terpengaruh oleh teori Pavlov, dan menerima model Pavlov, Classical Conditioning, sebagai penjelasan proses belajar. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan sejumlah refleks yang terbatas, -sedangkan belajar adalah hasil pengkondisian reflek-reflek tersebut. Oleh karena itu, menurut Watson, perbedaan kemampuan yang ada diantara manusia semata-mata disebabkan karena pengalaman (baca pengkondisian) yang berbeda, karena pada awalnya manusia semua sama. Teori environmentalism yang berkaitan dengan masalah IQ nampaknya berkembang dari proposisi Watson tersebut.

 

1.b. The Law of Effects (Edward L. Thorndike: 1874 – 1949)

Thorndike percaya bahwa pengaruh dari suatu response bisa menyebabkan apakah seseorang belajar atau tidak. Banyak percobaan yang dilakukannya melibatkan hewan yang mendapat ‘hadiah’ tertentu karena telah memberi respon yang diharapkan dan dilanjutkan dengan pengamatan, dampak apakah yang muncul atau perilaku apa yang muncul sebagai akibat dari hadiah yang diperoleh sebelumnya. Dalam suatu percobaan, misalnya, Thorndike (1911) mengurung seekor kucing yang lapar didalam kurungan, dan mengantung sepotong ikan di luar kurungan tersebut.Untuk bisa melepaskan diri dari kurungan itu, maka kucing harus menarik seutas tali atau melakukan gerakan cerdik lainnya.

Dari percobaan yang dilakukannya Thorndike sampai pada suatu kesimpulan tentang belajar: bahwa respon yang terjadi sesaat sebelum keadaan yang menyenangkan cenderung akan dikuasai, sedangkan respon yang terjadi sebelum suatu kejadian yang tidak menyenangkan akan dilupakan. Teori ini dinamakan the Law of Effect. Selain menggagas teori the law of Effect, Thorndike juga memperkenalkan teori the Law of Exercise dan the Law of Readiness. Dalam teori the Law of Exercise, Thorndike berpendapat bahwa upaya guru memberi latihan yang berulang-ulang dalam kegiatan pembelajaran akan membuat siswa terlatih dalam memberi respon yang tepat atau benar. Sedangkan dalam the Law of Readiness, siswa yang telah mendapat kesempatan untuk mempersiapkan diri diprediksi akan mampu memberikan respon yang benar dibandingkan dengan siswa yang tidak mempersiapkan dirinya terlebih dahulu.

Selain itu Thorndike juga dikenal dengan teori Trial and Error Learning nya yang pada intinya menyatakan bahwa ketika menghadapi situasi sulit dimana jalan keluarnya tidak diketahui, orang cenderung akan mencoba berbagai macam respon sampai ditemukan sebuah respon yang membawa efek yang menyenangkan..

 

 

 

 

 

 

 

 

1.c. Operant Conditioning (B.F. Skinner: 1904 – 1990)

Skinner mengembangkan teori Classical Conditioning Pavlov karena menurut Skinner, teori Pavlov hanya bisa menjelaskan proses belajar melalui interaksi stimulus dan respon yang sederhana saja. Untuk perilaku manusia yang kompleks, menurut Skinner, tentu diperlukan interaksi stimulus dan respon yang kompleks pula. Dalam teorinya, Skinner mengatakan bahwa komponen belajar terdiri dari stimulus, penguatan (reinforcement) dan respon.

Positive reinforcement (Penguat Positif): memperkuat perilaku yang diharapkan dengan jalan menghadirkan penguat positif setelah perilaku tertentu terjadi. Misalnya, jika seorang siswa berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan guru dengan benar, maka pujian yang diberikan guru sesaat setelah jawaban yang benar diberikan akan menyebabkan siswa berupaya memberi jawaban yang benar di kemudian hari.

Negative reinforcement (Penguat Negatif): dikatakan penguat negatif, karena dengan menghilangkan (atau tidak menghadirkan) suatu perlakuan tertentu, maka respon siswa jadi lebih baik. Misalnya, guru yang selalu melaksanakan tes atau quiz mendadak di kelas. Jika pada suatu ketika kebiasaan ini dihilangkan dan kemampuan yang ditunjukkan siswa sama bagusnya dengan ketika praktek tes mendadak biasa dilaksanakan, maka dalam hal ini tes mendadak tsb. dinamakan penguat negative.

 

Implikasi Behaviorisme terhadap proses belajar:

Penekanan proses belajar adalah pada ketrampilan, karena melalui ketrampilan yang ditunjukkan siswa maka guru bisa meyakini bahwa siswa telah berhasil dalam proses belajar.

Dalam desain pembelajaran yang menggunakan prinsip Behaviorisme, biasanya kurikulum dirancang dengan menyusun isi pengetahuan yang ingin dicapai menjadi bagian-bagian kecil, yang ditandai dengan suatu ketrampilan tertentu.Bagian-bagian ini disusun secara hirarkies, dari yang sederhana sampai ke yang kompleks. Alasan mengapa sasaran belajar disusun dalam bagian yang terpisah dan bertingkat adalah untuk memudahkan pengukuran atau pembuktian bahwa proses belajar telah berhasil dilaksanakan yaitu dengan adanya bukti perilaku yang terukur tadi. Taksonomi Bloom, adalah contoh sasaran belajar yang bertahap dan, menunjukkan hirarkies dari yang sederhana (mengetahui) sampai ke yang kompleks (kreasi).

Buat para penentangnya, paham Behaviorisme ini dikritik karena tidak dapat menjelaskan bagaimana manusia (dan hewan) berperilaku di dalam lingkungan sosial dan alamiahnya dimana tidak terdapat stimulus khusus. Kritik juga diajukan oleh para ilmuwan syaraf (neurologist) yang meyakini bahwa telaah langsung pada otak manusia merupakan satu-satunya cara untuk memahami perilaku manusia. Dalam bidang proses belajar bahasa, teori Behaviorisme juga mendapat tantangan keras dari Noam Chomsky. Dikatakan oleh Chomsky, jika belajar adalah hasil proses stimulus dan respon yang diperoleh individu dari lingkungannya, bagaimana kita bisa menjelaskan proses berbahasa anak-anak usia 4-5 tahun yang mampu memproduksi ratusan kalimat dengan kombinasi kata-kata yang bahkan belum pernah didengarnya? Menurut Chomsky, kemampuan berbahasa seperti ini menunjukkan bahwa manusia memang membawa kemampuan berbahasa sejak lahir (innate).

Contoh penerapan teori belajar Behaviorisme:

Direct Instruction/ Explicit Teaching: suatu metode penyampaian materi belajar dalam porsi yang bertahap dan sistematis. Antara satu topik dengan topik berikutnya akan ada jeda sejenak untuk memonitor pemahaman siswa (Rosenshine, 1986). Model ini juga dikenal dengan nama Model Transmisi (Transmission Model). Ada 6 fungsi pembelajaran yang diwujudkan dalam alur berikut ini:

  • Review harian
  • Penyajian materi baru
  • Praktek terbimbing
  • Koreksi dan umpan balik
  • Praktek mandiri
  • Review mingguan dan bulanan

Metode ini terbukti ampuh dalam pengajaran prosedur dan komputasi matematik, belajar membaca, membedakan fakta dari opini, fakta dan konsep ilmiah, fakta-fakta dan konsep ilmu sosial, keterampilan yang berkaitan dengan peta, dan kosa kata bahasa asing. Sebaliknya metode ini kurang berhasil jika digunakan untuk materi pembelajaran yang strukturnya kurang tegas, seperti belajar mengarang, pemahaman bacaan, analisa sastera atau trend sejarah.

 

 

 

 

 

2. teori cognitivisme

Berbeda dengan paham Behaviorisme, paham cognitivisme lebih terfokus pada masalah atau pertanyaan yang berkenaan dengan kognisi, atau pengetahuan. Menurut para pendukung teori ini, belajar adalah suatu proses mental, yang tidak selalu harus bisa diamati, yang bisa juga diberi nama pemrosesan informasi. Perubahan tingkah laku yang terjadi adalah merupakan refleksi dari interaksi persepsi diri seseorang terhadap sesuatu yang diamati dan dipikirkannya.

Menurut para pendukung teori kognitif, bagaimana teori behaviorisme bisa menjelaskan proses belajar yang terjadi pada beberapa siswa yang berbeda, dimana setelah mendapat stimulus yang sama mereka menghasilkan respon yang berbeda? Respon yang berbeda tersebut mestilah hasil dari kapasitas kognisi siswa yang berbeda. Mungkin mereka tidak memiliki motivasi yang sama, mungkin mereka menerapkan cara belajar yang berbeda, mungkin mereka memiliki background knowledge yang berbeda, atau mungkin cara pemecahan masalah yang mereka terapkan juga berbeda. Terdapat banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan mengapa stimulus yang sama tidak menghasilkan respon yang sama.

Beberapa nama penting yang diasosiasikan dengan teori belajar kognitivisme:

2.a. Bruner: Teori Belajar Penemuan (Discovery Learning)

Suatu pendekatan dalam belajar dimana siswa berinteraksi dengan lingkungannya dengan jalan mengeksplor dan memanipulasi obyek, bergulat dengan sejumlah pertanyaan dan kontroversi atau melakukan percobaan. Ide dasar dari teori ini adalah, siswa akan mudah mengingat suatu konsep jika konsep tersebut mereka dapatkan sendiri melalui proses belajar penemuan (Prinsip belajar: selidiki/inquire dan temukan/discover). Bruner juga memperkenalkan konsep perkembangan kognisi anak-anak yang mewakili tiga bentuk representasi: representasi enactive, iconic dan symbolic.

Pada tahap enactive misalnya, pengetahuan anak diperoleh dari aktivitas gerak yang dilakukannya seperti pengalaman langsung atau kegiatan konkrit. Tahap representasi iconic adalah masa ketika pengetahuan anak diperoleh melalui sajian gambar, atau grafis lainnya seperti film dan gambar statis. Sedangkan tahap representasi symbolic adalah suatu tahap dimana anak mampu memahami atau membangun pengetahuan melalui proses bernalar dengan menggunakan simbol bahasa seperti kata-kata atau simbolisasi abstrak lainnya.

2.b. Ausubel : Teori Belajar Bermakna

Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna.

Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.

Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.

Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.

Advance organizer: Penyampaian awal tentang materi yang akan dipelajari siswa. Diharapkan siswa secara mental akan siap untuk menerima materi kalau mereka mengetahui sebelumnya materi apa yang akan disampaikan guru. Contoh: handout sebelum perkuliahan.

Progressive Differensial: Materi pelajaran yang disampaikan guru hendaknya bertahap. Diawali dengan hal-hal atau konsep yang umum, kemudian dilanjutkan ke hal-hal yang khusus, disertai dengan contoh-contoh.

Integrative reconciliation: Penjelasan yang diberikan oleh guru tentang kesamaan dan perbedaan konsep-konsep yang telah mereka ketahui dengan konsep yang baru saja dipelajari.

Consolidation: Pemantapan materi dalam bentuk menghadirkan lebih banyak contoh atau latihan sehingga siswa bisa lebih paham dan selanjutnya siap menerima materi baru.

 

 

 

 

 

 

2.c. Robert Gagne: Model Pemrosesan Informasi

Gagne berpendapat bahwa proses belajar adalah suatu proses dimana siswa terlibat dalam aktivitas yang memungkinkan mereka memiliki kemampuan yang tidak dimiliki sebelumnya. Ada delapan tingkat kemampuan belajar menurut Gagne, dimana kemampuan belajar pada tingkat tertentu ditentukan oleh kemampuan belajar di tingkat sebelumnya.

8 Tingkat Belajar Gagne:

Signal Learning: dari signal yang dilihat/didengarnya, anak akan memberi respon tertentu. Misalnya ketika melihat seseorang membawa mainan (signal), seorang anak menunjukkan ekspresi gembira.

Stimulus-response learning: Seorang anak yang memberikan respon fisik atau vokal setelah mendapat stimulus tertentu. Contoh: Proses awal belajar bahasa dimana anak-anak mengikuti bunyi kata-kata yang dicontohkan orang dewasa.

Chaining: Kemampuan anak untuk menggabungkan dua atau lebih hasil belajar stimulus-respon yang sederhana. Chaining terbatas hanya pada serangkaian gerak (bukan serangkaian produk bahasa lisan). Contoh: lari, membuka pintu, dsbnya.

Verbal association: Bentuk penggabungan hasil belajar yang melibatkan unit bahasa seperti memberi nama sebuah obyek/benda.

Multiple discrimination: Kemampuan siswa untuk menghubungkan beberapa kemampuan chaining sebelumnya. Misalnya menyebutkan nama-nama siswa yang ada di kelas. Mampu membedakan bermacam bentuk benda, cair, padat dan gas.

Concept learning: Belajar konsep artinya anak mampu memberi respon terhadap stimulus yang hadir melalui karakteristik abstraknya. Contoh, siswa diperkenalkan dengan konsep kotak. Melalui pemahaman konsep kotak ini, siswa mampu mengidentifikasi benda lain yang berbeda ukuran, warna, maupun materinya, namun masih memiliki karakteristik kotak.

Principle learning: Kemampuan siswa untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. Contoh: hubungan antara diameter dengan keliling suatu lingkaran.

Problem solving: Dalam tingkat ini, siswa mampu menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk mencapai satu sasaran. Problem solving menurut Gagne adalah tipe belajar yang paling tinggi. Siswa yang mampu menyelesaikan suatu permasalahan melalui serangkaian langkah problem solving diyakini juga menguasai ke tujuh kemampuan belajar di bawahnya.

2.d. Jean Piaget (1896 – 1980): Cognitive Development Model

Menurut Piaget ada empat tahapan perkembangan kognisi manusia :

a. Tingkat Sensorimotor (0-2 tahun).

Anak mulai belajar dan mengendalikan lingkungan melalui kemampuan panca indera dan gerakannya. Perilaku bayi pada tahap ini semata-mata berdasarkan pada stimulus yang diterimanya. Sekitar usia 8 bulan bayi memiliki pengetahuan object permanence, yaitu walaupun sebuah object pada suatu saat tidak terlihat di depan matanya, tidak berarti obyek tersebut tidak ada. Sebelum usia 8 bulan bayi pada umumnya beranggapan bahwa benda yang tidak mereka lihat berarti tidak ada. Example: Peekaboo game for babies. Pada tahap ini bayi memaknai dunianya berdasarkan pengamatannya atas gerakan/aktivitas yang dilakukan orang-orang disekelilingnya. Misalnya melihat ibu mempersiapkan perlengkapan makannya, bayi mengetahui bahwa ia sebentar lagi akan diberi makan.

b. Tahap Preoperational (2 – 7 tahun)

Anak-anak pada tahap ini sudah mampu berfikir sebelum bertindak, meskipun kemampuan berfikirnya belum sampai pada tingkat kemampuan berfikir logis. Masa 2 – 7 tahun kehidupan anak juga ditandai dengan sikap egocentris, dimana mereka berfikir subyektif dan tidak mampu melihat obyektifitas pandangan orang lain, sehingga mereka sukar menerima pandangan orang lain. Ciri lain dari anak yang perkembangan kognisinya ada pada tahap preoperational adalah ketidakmampuannya membedakan bahwa 2 obyek yang sama memiliki masa, jumlah, atau volume yang tetap walaupun bentuknya berubah-ubah. Contoh, clay ball, string of beads, same amount of water in two different containers. Karena belum mampu berfikir abstrak, maka anak-anak di usia ini lebih mudah belajar jika guru melibatkan pengunaan benda yang konkrit daripada menggunakan hanya kata-kata saja. Contoh: dalam pelajaran berhitung, misalnya, penggunaan benda nyata (batang korek api, koin, dsbnya) lebih memudahkan pemahaman anak.

 

 

c. Tahap Concrete Operations (7 – 11 Tahun)

Pada tahap ini pada umumnya anak-anak sudah memiliki kemampuan memahami konsep konservasi (concept of conservacy), yaitu meskipun suatu benda berubah bentuknya, namun masa, jumlah atau volumenya adalah tetap. Anak juga sudah mampu melakukan observasi, menilai dan mengevaluasi sehingga mereka tidak se- egosentris sebelumnya. Kemampuan berfikir anak pada tahap ini masih dalam bentuk konkrit, mereka belum mampu berfikir abstrak, sehingga mereka juga hanya mampu menyelesaikan soal-soal pelajaran yang bersifat konkrit. Aktifitas pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pengalaman langsung sangat efektif dibandingkan dengan penjelasan guru dalam bentuk verbal (kata-kata). Contoh, dalam pelajaran IPS, misalnya, siswa akan lebih mudah memahami konsep arah mata angin/kompas barat, timur, utara dan selatan jika guru membawa peta atau bola dunia ke dalam kelas daripada menjelaskan bahwa pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa.

d. Tahap Formal Operations (11 Tahun ke atas)

Pada tahap ini kemampuan siswa sudah berada pada tahap berfikir abstrak. Mereka mampu mengajukan hipotesa, menghitung konsekuensi yang mungkin terjadi serta menguji hipotesa yang mereka buat. Kalau dihadapkan pada suatu persoalan, siswa pada tahap perkembangan formal operational mampu memformulasikan semua kemungkinan dan menentukan kemungkinan yang mana yang paling mungkin terjadi berdasarkan kemampuan berfikir analitis dan logis. Pada mulanya Piaget beranggapan bahwa pada usia sekitar 15 tahun hampir semua remaja akan mencapai tahap perkembangan formal operation ini. Namun kenyataan membuktikan bahwa banyak siswa SMU – bahkan sebagian orang dewasa sekali pun- tidak memiliki kemampuan berfikir dalam tingkat ini.

 

Implikasi teori Kognitivisme terhadap proses belajar:

Untuk meningkat kemampuan berfikir siswa, dan membantu siswa menjadi pembelajar yang sukses, maka pengajar yang menganut paham Kognitivisme banyak melibatkan siswa dalam kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving, strategi belajar, memory retention skill sering ditekankan.

 

 

 

 

 

 

 

3. teori konstruktivisme

Pengetahuan yang kita miliki adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glaserfeld,1996). Seseorang yang belajar akan membentuk pengertian, ia tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan atau yang ia baca, melainkan menciptakan pengertian baik secara personal maupun sosial (Resnick, 1983; Bettencourt, 1989). Pengetahuan tsb. dibentuk melalui interaksi dengan lingkungannya.

Agar dapat mengerti sesuatu yang dipelajari, maka pembelajar harus bisa menemukan, mengorganisir, menyimpan, mengemukakan dan memikirkan suatu konsep atau kejadian dalam suatu proses yang aktif dan konstruksif. Melalui proses pembentukan konsep yang terus menerus maka pengertian bisa dibangun (Bettencourt, 1989).

 

Implikasi konstruktivisme terhadap proses belajar:

Berdasarkan prinsip bahwa: ”dalam belajar seseorang harus mengkonstruksi sendiri pengetahuannya” maka guru hendaknya mengusahakan agar murid aktif berpartisipasi dalam membangun/mengkonstruksi pengetahuannya.

Ada2 pertanyaan yang perlu dicermati guru: 1) Pengalaman -pengalaman apa yang harus disediakan bagi para siswa supaya dapat memperlancar proses belajar, dan 2) Bagaimana pembelajar dapat mengungkapkan/ menyajikan apa yang telah mereka ketahui untuk memberi arti pada pengalaman-pengalaman itu (Tobin, Tippin, & Gallard, 1994).

Model pembelajaran yang menggambarkan prinsip konstruktivis: kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengungkapkan gagasan dan pemikirannya, siswa dibantu untuk lebih berfikir dan merefleksikan pengetahuan mereka dalam kegiatan seperti: diskusi kelompok, debat, menulis paper, membuat laporan penelitian di majalah, berdiskusi dengan para ahli, meneliti di lapangan, mengungkapkan pertanyaan dan sanggahan terhadap apa yang disampaikan guru, dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. teori humanisme

Suatu pendekatan dalam filsafat pendidikan yang bertujuan mengembangkan sikap, perasaan dan kemampuan belajar mandiri pada siswanya. Penganut pandangan Humanisme lebih menekankan pada peran sekolah dalam membentuk domain affektif siswa, mengajar siswa bagaimana cara belajar dan meningkatkan kreativitas dan potensi manusia. Pendekatan humanis sangat popular di Amerika Serikat di awal 1970 an. Dalam salah satu prakteknya, terdapat sebuah sekolah di Inggris yang menerapkan cara mengajar siswa yang tidak memberi pelajaran membaca sampai siswa meminta sendiri untuk diajar membaca.

Keleluasaan untuk memilih apa yang akan dipelajari dan kapan dan bagaimana mereka akan mempelajarinya yang merupakan ciri utama pendekatan humanisme bertujuan untuk membantu siswa menjadi self-directed serta self-motivated learner. Penganut paham ini yakin bahwa siswa akan bersedia melakukan banyak hal apabila mereka memiliki motivasi yang tinggi dan mereka diberi kesempatan untuk menentukan apa yang mereka inginkan. Ciri lain dari pendekatan humanisme adalah mereka menghindari pemberian nilai, tes standard atau evaluasi formal lainnya.

Berikut ini adalah nilai-nilai penting yang ditumbuhkembangkan dalam pendidikan humanisme:

  1. Kejujuran (tidak menyontek, tidak merusak, bisa dipercaya),
  2. Menghargai hak orang lain (menerima dan menghormati perbedaan individu, mau mendengarkan dan menolong orang lain, berempati terhadap problem orang lain),
  3. Menjaga lingkungan (menghemat penggunakan listrik, gas, kayu, logam, kertas, dll.; menjaga barang milik sendiri ataupun milik orang lain),
  4. Perilaku (mau berbagi, menolong orang lain, ramah terhadap orang lain, berlaku pantas didepan publik)
  5. Kebiasaan di sekolah (tepat waktu, mematuhi aturan, rajin, menerima kepemimpinan orang lain, memperhatikan peraturan keamanan);
  6. Perkembangan pribadi (menjalankan tanggung jawab, menghargai kesehatan dan kebersihan fisik, mengembangkan bakat yang dimiliki secara optimal, mengembangkan rasa hormat dan rasa banga terhadap diri sendiri, mengontrol perilaku, .memiliki sikap berani, terhormat dan patriotik, menghargai keindahan).

 

 

 

Kritik terhadap paham Humanisme:

Pada tahun 1968 Bernstein melakukan evaluasi terhadap prestasi sekolah2 yang menerapkan pendekatan Humanisme dalam pengajaran kepada siswa-siswanya, di Inggris. Ternyata dalam banyak hal para siswa tidak menunjukkan prestasi seperti yang diharapkan. Demikian juga dengan sekolah2 di Amerika yang menerapkan pendekatan Humanisme. Sekolah 2 inipun menunjukkan bahwa dibandingkan dengan sekolah konvensional, kemampuan siswa-siswanya kurang berhasil. Sebagai konsekuensi, maka keberadaan sekolah ini lalu ditutup.

 

5. Teori memory

Tehnik mengingat yang banyak dilakukan orang adalah dengan mengulang informasi yang masuk. Pengulangan informasi akan tersimpan lebih lama dan lebih mudah untuk diingat kembali(Matlin,1989). Proses pengulangan tersebut berkaitan erat dengan sistem ingatan yang ada pada manusia. Menurut Atkinson dan Shiffrin(dalam Matlin,1989). Sistem ingatan manusia dibagi 3 bagian yaitu:

  1. Sensori memori(sensory memory)
  2. Ingatan jangka pendek ( short term memory)
  3. Ingatan jangka panjang ( long term memori)

Sensori memori mencatat informasi atau stimuli yang masuk melalui salah satu atau kombinasi panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui hidung, bau melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimuli tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke system ingatan jangka pendek.

Sistem ingatan jangka pendek menyimpan infromasi atau stimuli selama kurang lebih 30 detik, dan hanya sekitar tujuh bongkahan informasi(chunks) dapat dipelihara dan dapat disimpan di sistem ingatan jangka pendek dalam suatu saat( Solso,1988). Setelah berada di sistem ingatan jangka pendek, informasi tersebut dapat ditransfer lagi melalui proses rehearsal ke sistem ingatan jangka panjang untuk disimpan, atau dapat juga informasi ersebut hilang atau terlupakan karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi yang baru(Solso,1988).

 

 

 

 

Dewasa ini perkembangan intelektual semakin dipandang sebagai perubahan dalam cara mengolah secara mental semua masukan yang diterima oleh alat indra. Perkembangan intelektual ini diumpamakan dengan sebuah komputer yang makin lama makin mampu memasukan data ke dalam ingatan jangka pendek, serta mengembangkan program-program yang makin lama makin baik dalam mengola data dan mengambil maknanya. Makin pengolahannya makin baik pula keadaan dalam ingatan jangka panjang yang terorganisasi rapi.

Dengan bertambahnya umur, seorang peserta didik mengembangkan cara yang lebih mahir untuk mengingat sehingga pesrta didik lebih mampu mengolah informasi baru. Salah satu ciri khas dari perkembangan intelektual adalah bertambahnya kemampuan peserta didik untuk memonitor dan mangarahkan kemampuan proses berfikir sendiri, yakni memusat perhatian pada seuatu, menyimpan sesuatu di ingatan jangka pendek dan menggali informasi di sistem ingatan jangka panjang. Ciri ini dikenal dengan kemampuan metakognisi yaitu pengetahuan tentang proses berpikir pada diri sendiri dan pada orang lain.

Menurut Gie (1984), pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada peserta didik meliputi 3 hal yaitu:

  1. Recall yaitu mengingat kembali diluar kepala
  2. Recognition yaitu mengenal kembali setelah melihat atau mendengar.
  3. Relearning yaitu mempelajari kembali.

Dari ketiga hal tersebut, yang paling bagus jika peserta didik dapat mengingat suatu hal di luar kepala.

Proses ingatan terbagi dalam tiga langkah:

  1. Encoding(mengumpulkan informasi yang akan diingat)
  2. Menyimpan informasi
  3. Decoding(mengingat kembali informasi)

Cara mengingat:

  1. Bercerita
  2. Mencipta lagu atau irama
  3. membuat catatan
  4. membuat lakonan
  5. mencipta akronim
  6. membuat sinonim atau antonym
  7. membuat grafik, ilustrasi
  8. mengingat secara berkelompok
  9. mengulang
  10. melatih berulang-ulang

 

6. Kesimpulan

Bahwa learning and memory adalah dua hal yang saling berkaitan, kegiatan learning and memory selalu beriringan. Kegiatan belajar akan menghasilkan outcome yang disebut memori demikian sebaliknya. Learning merupakan proses yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan sedangkan memory adalah hasil yang diperoleh daripada proeses belajar. Untuk memaksimalkan proses”learning” maka para peneliti atau ahli melakukan eksperimen-eksperimen yang bertujuan untuk mengungkap misteri yang terkandung dalam otak manusia yangmana dianggap mempunyai struktur paling kompleks di alam semesta ini.Berbagai penemuan muncul dari eksperimen tersebut seperti: behaviorisme (1910-1950), cognitivisme, kontruktivisme, dan humanisme. Sedangkan yang berhubungan dengan memory dijelaskan bahwa ada tiga jenis system ingatan pada manusia: a. Sensori memori(sensory memory), b. Ingatan jangka pendek ( short term memory), c. Ingatan jangka pendek(Long term memory).

Hello world!

Mei 24, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.